Random Talk : Antara Jomblo, One Piece dan Pertumbuhan Penduduk

Yo waslaaaaaaap

Hehe /sok swag/

Apa kabar guys? Gue harap siapapun yang membaca ini, kalian sedang dalam kondisi sadar yang seutuh-utuhnya ya. Jangan sampai kalian membuka postingan ini atas dasar kekhilafan.

Gue sangat menyayangkan kelalaian gue dalam berkata-kata (errrrrrr). Zbl bat y, gue sangat ingin betul-betul berkomitmen untuk kembali ngeblog lagi, kembali nulis lagi di sela-sela kesibukan kuliah yang jahanam ini, tapi… akhirnya ya… semua hanya “rencana” kosong belaka. Tadinya, sebulan yang lalu ketika liburan semester, gue ingin update-update sedikit. Tapi, huft, liburan sebulan mah enaknya dipake marathon anime dan menambah timbangan berat badan.hehe.

Oke, meski gue gak jadi ngepost di bulan-bulan lalu, setidaknya gue akan ngepost sekarang(?) Di postingan kali ini, gue ingin sedikit berbagi cerita mengenai… mengenai apa ya? Obrolan random dan santai dulu dah. Gue mau curhat tentang satu pemikiran gue yang menurut gue agak absurd, tapi sebenarnya berfaedah tinggi. Soksoan aja sih.

Mulai je langsung. Selamat membaca!

Jadi gini, gue sempet berpikir bahwa ada hubungan antara jumlah jomblo dengan pertumbuhan penduduk.

Hehehe.

Ini semua berawal dari kesukaan gue terhadap anime serial One Piece.

Random banget kan? Tapi ya semoga pada ngerti deh.

Oke, ceritanya gue mulai nonton One Piece secara serius itu saat gue kelas 2 SMA akhir, menuju kelas 3. Gue inget banget, saat itu lagi detik-detik UAS tapi gue dengan tenangnya tetep marathon nonton One Piece dari episode 1. Alhasil, selama 3 bulan dari akhir 2015 sampe awal 2016 gue berhasil menuntaskan 700an episode. Saat itu masih arc dressrosa.

Dari cerita One Piece, gue mendapatkan banyak sekali hal-hal yang bermanfaat. Sarat akan makna yang bener-bener berguna buat kehidupan kita di real life. Salah satunya adalah mengenai impian. Udah gak aneh lah ya yang namanya anime genre ginian tokoh utamanya dah pasti punya impian. Macam Naruto yang punya impian kuat untuk menjadi hokage. Di One Piece, semua karakternya bahkan karakter yang cuma lewat, mereka semua punya impian yang sangat teramat sangat sangat sangaaaaaat kuat. Meski kita lihat “Impian macam apa tuh?!” Tapi mereka semua tetap dengan bangganya, berjuang demi mencapai ambisi mereka itu. Gue bingung menjelaskannya tapi, beneran itu awesome banget. Walaupun cuma tokoh fiktif, tapi ngeliat perjuangan mereka demi mencapai cita-cita mereka tuh patut diacungi jempol gajah. Keren banget. Keren gewla. Seakan-akan, impian mereka itu adalah satu-satunya tujuan hidup yang harus banget diperjuangkan. Mereka bener-bener fokus untuk menjadi apa yang mereka inginkan, demi kehidupan mereka maupun kehidupan orang lain agar bisa hidup lebih baik lagi. Sekali lagi, mereka sangat berfokus memiliki dan mencapai impian. Sampai-sampai, gue rasa gak ada satupun dari mereka yang mikirin, “abis jadi Raja Bajak Laut, gue mau nikah.”

Ya, One Piece emang kalau diperhatiin secara sekilas juga memang jarang banget adanya kisah cinta. Keliatan ada keluarga juga cuma dikit, it means jumlah penduduknya masih sangat sedikit. Kebutuhan bereproduksi meneruskan keturunan tuh seakan-akan bukan sesuatu yang harus banget didahulukan. Kebanyakan, ya itu, fokus mencapai kemenangan menggapai impian. Cerita di One Piece tuh semua rata-rata tentang ambisi-impian-persahabatan-keluarga. Dan kalau kita kaji lebih dalam, betapa bagusnya hal tersebut untuk perkembangan masa depan. /tsaaaaaah/.

Gini, kalau semua anak-anak sampe remaja menuju dewasa di One Piece hanya berfokus untuk menggapai impian dan mengakhirkan agenda memiliki keturunan, berarti mereka secara tidak langsung juga telah memperlambat pertumbuhan penduduk. Kalau pertumbuhan penduduk lambat sementara mereka di usia produktif benar-benar melakukan hal-hal yang bermanfaat, itu berdampak bagus banget buat perekonomian dan SDM daerah tempat tinggal mereka. Mereka memantapkan diri sendiri dulu, baru kalau kepikiran ya… cari pasangan, nikah, punya anak, teruskan bakat ke anak.

Coba kita bandingkan dengan kondisi yang ada pada zaman ini.

Di mana yang paling utama adalah pasangan dulu, sukses mah udah pasti sukses /pikirnya/.

Serius deh.

Kenapa gue berani berasumsi seperti ini?

Di belakang sekolah gue, ada sungai. Dan sama seperti di zaman purba, sekitaran sungai adalah tempat yang efektif untuk membuat pemukiman. Selain itu, di sana juga ada pemakaman. Pemakaman kan, kalau ada tanah makam yang ditinggal dan gak diurus lagi, ya bisa digarap jadi rumah.

Nah, setiap hari gue pulang sekolah lewat daerah pemukiman tersebut. Karena memang enak dipake buat pejalan kaki lantaran jaraknya yang gak begitu jauh. Beda kalau lewat jalan raya utama yang agak muter. Sepanjang jalan, gue akan selalu melihat rumah-rumah kecil yang berjejalan, bocah-bocah ingusan yang bandel berkeliaran dan kadang menjahili pejalan kaki yang lewat, orang-orang tua yang berjualan dan anak-anak remaja alay yang lagi pacaran dan ngerokok.

Entah dapet ilham dari mana, gue juga gak ngerti kenapa tapi berkat One Piece gue bisa tau alasan kenapa pertumbuhan penduduk jadi berkembang dengan sangat pesat.

Tiap gue dijahilin sama anak-anak ingusan yang tiba-tiba bilang “Teh, I Love you teh! I Love you!!” Atau ketika gue melihat anak kecil itu berpenampilan kumuh dan ingusan dalam artian sebenarnya, gue selalu berpikir, “Ini emaknya kemana?” “Kalau emang gak bisa ngedidik anaknya kok bikin anak ya?”

Jahat gak sih pemikiran gue? Tapi, ya apa adanya, itu yang gue pikirkan.

Lalu, gue pun melihat bahwa di daerah tersebut juga banyak ibu-ibu usia muda. Usia muda… lepas remaja. Jadi mungkin ibu usia 18 – 25 tahun tuh ada banyak banget di daerah tersebut. Bagaimana gue tau? Ya kan gue melihat. Hehe. Iya, gue melihat ibu-ibu muda itu nongkrong di warung sambil ngobrol dan ngerumpi atau ngasuh anaknya yang lagi jajan telor puyuh.

Gue pun berpikir lagi. “Mereka nikah karena siap lahir batin demi akhirat, atau karena emang cinta aja ya?” atau bahkan… “Apa mereka nikah karena mecah rekor duluan?”

Singkatnya, gue ingin menyampaikan bahwa di sekitar gue, yang gue perhatikan, ini real life, orang-orang lebih mengutamakan membuat keturunan dulu dibanding melakukan hal produktif di usia muda. Yang gue rasakan, mereka seakan-akan takut gak bisa nikah kalau terlalu fokus mencapai sesuatu seperti mengejar cita-cita.

Timbul pertanyaan lagi, kenapa bisa gue mengatakan seperti itu?

Btw telat bilang tapi ini semua hasil observasi aja jadi gak ada data akurat. Lagian kan obrolan ringan doang ya bukan lagi diskusi proyek penelitian. Ringan apanya sadh.

Oke, balik lagi, gue beberapa kali memperhatikan bahwa status jomblo itu ibarat kutukan yang harus dijauhkan sejak dini. Gue punya temen, yaa cuma kenal di sosmed sih tapi anggep lah dia temen gue. Usia dia baru 20 tahun, dan dia curhat ke gue yang saat itu masih 17 tahun. Dia bilang, kalau dia lagi butuh cewe banget. Dia ingin nikah. Usia segitu tuh udah butuh pasangan. Dia bilang kaya gitu. Karena gue masih kecil(?) ya gue mana tau rasanya ya. Tapi kalau dipikir-pikir, dibanding dengan nikah, umur 20 mah mending cari kerja yang layak atau nimba ilmu apalagi gitu. Kan bisa jadi wirausahawan muda sukses berlamborghini kalau mau berusaha di usia segitu. Dibanding buru-buru nikah. Dan lagian nikah kan nanti nambah tanggungan. Kalau nanggung diri sendiri aja belum bisa, masa dah mau ngurus anak orang.

Selain itu, from my real life bener-bener dari sekitar gue. Gue perhatiin, beberapa temen gue tuh resah banget karena gak punya pacar. Disaat gue mengeluhkan jam tidur kurang atau battle game kalah terus, beberapa temen gue ngeluhnya “Butuh pacar banget…” Hell men. Gue jadi berpikiran bahwa kebutuhan primer mereka menjadi Sandang-Pangan-Papan-Pasangan.

Masih muda aja udah ngekhawatirin pasangan, apa mereka gak mau fokus dulu buat cita-cita ya?

Trafalgar Law aja yang udah 25 tahun lebih gak punya cewek. Nico Robin juga tetep fokus mencari poneglyph. Terus gue ngeship mereka gitu? Enggak. Law pasangannya sama gue, Robin gue cocokin sama Zoro. Kok malah kesini? Ngawur dah. Ya, ini contoh kecil aja kalau mereka itu fokus banget menggapai apa yang mereka inginkan.

Ngomong-ngomong, lo sendiri gimana, Gus?

Gue sih emang punya komitmen gak akan pacaran. Tapi untuk urusan impian dan cita-cita… Punya lah. Meski gak begitu kuat ambisinya. Tapi, ya, keinginan gue cuma gak akan pacaran dulu sampe bener-bener sukses ngebahagiain diri sendiri dan keluarga. Kalau urusan ada atau enggaknya orang yang gue suka mah ya pasti ada ya. Kan dulu gue pernah ya ngepost galau-galau gitu di blog ini. AH LUPAKAN SAJA ITU YA HAHAHAHAHA.

Ekhm.

Oke.

Dari situ kelihatan dah ya, apa yang anak-anak muda saat ini lebih fokuskan? Atau lo liat deh aktivitas cabe-cabean sama anak-anak cowok yang kumpul di warung sambil sebats. Gede omong doang kebanyakan.

Nah, apa penyebab mereka seperti itu? Apa penyebab mereka lebih fokus mementingkan pasangan ketimbang impian?

Asumsi terkuat gue saat ini sih pengaruh sosial media, di mana kalau kita lihat banyak banget post-post yang nyindir-nyindiri jomblo. Yang nyebar atau mempengaruhi pembacanya dengan mindset, “Jomblo tuh sedih, cari pasangan gih.” Dari situ, ya mulai lah orang-orang sibuk nyari pacar daripada sibuk belajar. Dampak dari temen bergaul juga bisa aja sih. Ya bisa banget.

Selain itu, efek orang tua juga bisa. Parah ya gue nyalahin orang tua? Wkwkwk. Tapi iya guys. Scroll up dikit dan ingatlah pada paragraf di mana gue keherenan melihat ibu-ibu muda dan anak-anak ingusan yang kaya gak diurus emaknya. Gue bukan ngejelek-jelekin tapi maaf-maaf aja nih ya, kalau orang tuanya gak bisa mendidik dan mencotohkan hal yang benar ke anaknya, ya anaknya bisa aja memiliki sikap yang sama buruknya. Apalagi kalau tinggalnya di lingkungan yang kurang mendukung juga. Paket combo dah tuh tinggal nikmatin aja. Kalau dididiknya udah gak bener, tinggal dan bergaul dengan lingkungan yang gak bener juga, ya dia bakalan hidup dan tumbuh besar dengan sikap yang gak bener juga. Dan kalau kaya gitu, ya hidupnya keterusan gak bener juga. Kecuali jika datang pertolongan dari yang Maha Kuasa.

Gini deh, kalau ada seorang remaja cewe bandel yang kebelet ingin kawin sama cowoknya. Dah deh tuh beres, nikah, kawin atas dasar nama cinta tanpa pembekalan ilmu yang mencukupi. Kemudian mereka punya anak dan mereka ya ngurusnya ngurus aja ngasih makan minum uang jajan. Kebetulan eh, mereka tinggal di lingkungan kumuh, karena gak ada uang banyak buat nyewa rumah di daerah layak. Lengkap dah tuh kan anaknya gaul sama temen yang kaya gimana. Kisahnya nih, anaknya cowok. Semakin ia besar dan membandel seperti noda pakaian, di usianya yang remaja, dia mulai pacar-pacaran sama cewek nakal juga. Ya, siklus kaya emak sama bapaknya. Cepet-cepet nikah atas dasar rasa cinta. Trus punya anak. Gitu lagi. Gitu aja siklusnya.

Bandingkan dengan kalau ada seorang remaja cewe yang cerdas dan punya cita-cita jadi guru playgroup. Ketika dia sudah menjadi seorang pendidik profesional, dia dilamar sama seorang pria. Kemudian menikah. Punya anak. Dididik sebaik mungkin agar gedenya bisa jadi anak yang bermanfaat. Dan ya, anaknya serius banget ingin jadi penggebuk drum ternama. Berlatih… berlatih… akhirnya jadi musisi hebat. Kalau udah jadi musisi mah ya gampang cari pasangannya. Ya, singkat cerita dia menikah kemudian punya anak yang dia besarkan dengan ilmu yang yang baik. Gitu aja siklusnya.

Dah. Ngerti kan ya?

Kalau kita berfokus untuk memiliki hidup yang lebih baik, pasti ke depannya kita juga akan bisa menghasilkan kehidupan lain yang lebih juga. Meski gak ada yang tau takdir Tuhan berkata apa, setidaknya ya kita kan udah berjuang dan berusaha untuk membentuk sesuatu yang lebih baik lagi.

Kalau kita berfokus dalam membentuk kualitas hidup yang lebih mapan dibanding buru-buru bikin keturunan tanpa ilmu yang jelas, kita udah membantu meringankan beban negara dengan memperlambat pertumbuhan penduduk. Boleh aja sih cepet-cepet. Nambah penduduk dengan cepet juga boleh dan bagus aja sih asal liat kualitas juga. Jangan sampe udah buru-buru nambah, eh Cuma buat nyempitin tanah negara. Kan gak guna.

Sama kaya anime One Piece, fokus aja dulu ke impian untuk menjadi sesuatu yang hebat selagi masih hidup. Kalau udah hebat, ya apa aja bisa digaet dengan mudah termasuk pasangan. Kalau udah sukses jadi raja bajak laut kan, harta berlimpah. Tapi gue gak yakin Luffy bakalan milih pasangan hidup. Karena itu, kisah cinta itu sulit ditebak di dunia One Piece. Tapi kalau kita bawa ke dunia kita, ya ibaratnya Luffy udah sukses jadi Raja Perekonomian. Dia mau nikahin Nami atau Hancock ya gampang-gampang aja.

Mending ngejomblo dulu, tapi jadilah jomblo produktif. Semakin banyak jomblo, semakin sedikit pasangan muda dan dengan begitu pertambahan penduduk akan sedikit terkendali. Kalau pertambahan penduduk terkendali, SDA jadi stabil penggunaannya, lapangan kerja juga jadi gak krisis-krisis amat. Eh, malah bertambah karena banyak jomblo produktif.

Tapi gue bukan bilang ke kalian kalau nikah atau nyari pasangan tuh gak penting ya. Gue cuma mau bilang, apalagi buat yang masih remaja. Belajar, cari ilmu yang bener. Jangan lupa memperbaiki diri juga. Jangan cuma make a wish tiap awal bulan di ask.fm “Pokoknya harus bisa lebih baik dari bulan sebelumnya.”aja tapi buktiin kalau lo emang mau berubah jadi yang lebih baik terus menerus. Gausah terlalu mengkhawatirkan pasangan, karena kalau lo percaya sama kata-kata Tuhan, ya Allah itu menciptakan manusia itu berpasang-pasangan. So, don’t worry dan jangan terlalu termakan kutukan jomblo itu sengsara.

Dengan melakukan hal kecil macam berusaha serius menggapai impian aja, dampaknya ternyata bisa gede dan meluas ke orang lain. Keren kan ya. Widiw, gue keren banget. Hehe. Mulai geje.

Oke, obrolan ringan ini memang terasa semakin ngawur ya. Tapi, yang penting gue ngepost dulu. L Yang penting juga, setidaknya sedikit apa yang gue sampaikan bisa nempel di otak kalian dan mungkin sedikit menginspirasi? Wkwkwk

Thanks reader sudah membaca. Semoga bermanfaat. Semoga kedepannya gue bisa nulis lebih rapih lagi. See yaw!

Advertisements

One thought on “Random Talk : Antara Jomblo, One Piece dan Pertumbuhan Penduduk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s