Petak-Umpet 17 Tahun

Senin, 10 Agustus 2015 yang lalu, gue kesel banget. Kejutan ulangtahun gue ternyata masih berlangsung dan hari itu, acaranya disponsori oleh dua doi kece gue yaitu Alifya dan Rahmalia.

Dibandingkan dengan rasa bahagia, yang gue rasakan di hari itu cuma kesel kesel takut bahkan menimbulkan trauma psikologis buat gue. Alif sama Rahma ngejailin gue hari itu. Gak terlalu parah, cuma ya gue jadi kesel aja.

Dimulai dari kado yang dimasukkan ke tas gue. Gue udah tau dan yakin itu dari mereka (plus Anin mungkin ya?) karena tahun lalu juga gue dan Alif pernah bersekongkol memasukkan kado ke tas Rahma. Pemberian kado dengan cara klasik.

Ada dua kado di tas gue. Yang setelah diselidiki, ternyata itu dari mereka dan Mamahnya Rahma. Gue mendapatkan mukena berwarna hijau tua yang modelnya sama persis sama mukenanya Alif (membuat orang-orang makin ngira kita satu bapak satu ibu) dan sebuah piyama hello kitty.

Gue gak mengkhawatirkan apa-apa lagi jadi gue melanjutkan hidup gue dengan damai tanpa hambatan. Sampai tiba saatnya mukena hijau baru gue yang dipaksa dipake sama Alif padahal belum dicuci, hilang selama kurang lebih 5 menit. Bikin capek dan degdegan karena gue harus bolak-balik dari lantai 2 ke tempat wudhu dalam keadaan kaki basah. Pada akhirnya, mukena tersebut ditemukan karena ternyata hanya disembunyikan oleh Rahma.

Sebenarnya sih, gue yakin banget gamungkin sampe ada yang mukenanya dicuri orang. Gue udah tiga tahun di sekolah ini, dan belum ada kasus mukena dicuri orang. Kecuali Nabilah yang waktu itu, bawahan mukenanya jatuh kemudian ditemukan lagi di lemari masjid dan mukena Nurfira yang waktu itu dipake sama ibu-ibu gatau dari mana. Jadi, gue yakin kehilangan mukena gue waktu itu cuma sebatas disembunyiin. Apalagi, mukena gue emang sering banget disembunyiin Alif.

Gue gak mikir dan ngekhawatirin apa-apa lagi. Gak membayangkan bahwa gue akan dijailin lagi. Namun ternyata, setelah mukena yang hilang, kini giliran sebelah sepatu gue yang pergi tanpa pamit.

Kalau memang sepatu itu lenyap karena gue lupa nyimpen atau ada orang lain yang jail, Alif dan Rahma pasti bakalan bantu nyari. Tapi ini mereka bener-bener tega sampe mau ninggalin gue dan nyuruh gue nyari sendiri dengan alibi “Rahma mau makan.”

Akhirnya, sepatu itu ditemukan di depan pintu UKS sebelah masjid. Gue jerit-jerit bahagia dan baru sadar ada Sunggyu dan teman-temannya lagi duduk pake sepatu gak jauh dari sana. Entah apa yang akan Sunggyu pikirkan setelah melihat gue yang makin petakilan disaat kerudung gue udah lebih “Muslimah”.

Untuk ketiga kalinya, gue gak mengkhawatirkan apa-apa lagi dan seperti yang sudah terduga, gue dijahilin LAGI. Sampe kelas belakangan, gue lihat Alif dan Anin berjalan ke luar kelas menuju kantin sementara Rahma hilang entah kemana.

Nggak kok, sekarang bukan Rahma yang diumpetin melainkan… kotak pensil gue.

Sumpah, ini puncak kekesalan dan hal yang bikin gue jadi trauma nyimpen barang tanpa pengawasan.

Gue yakin 1000% ini dijailin Alif dan Rahma. Karena, siapa lagi yang peduli sama gue sampe ingin ngejailin di kelas? Lagian, sangat tidak mungkin temen-temen di kelas gue nyuri kotak pensil yang gede dan mencolok. Kalau nyuri satu pensil atau penghapus sih masih wajar dan gue memaklumi. Lah ini, kotak pensil gede men. Terlalu menantang orang yang berani nyuri kotak pensil ini.

Sepertinya, si “pencuri” kurang ahli dalam menyembunyikan kotak pensil dan merekayasa TKP. Dapat dipastikan juga bahwa tadinya, mereka akan menyembunyikan handphone gue tapi jadinya malah kotak pensil. Terlihat dari handphone gue yang sudah rapihnya duduk di dalam bungkus kado yang udah dibuka.

Mungkin lain kali mereka perlu menyembunyikan sesuatu yang memungkinkan untuk hilang atau dipinjam tanpa bilang-bilang.

Sampai bel pulang, kotak pensil gue masih sirna. Dan akting Alif mencurigakan. Membuat gue yakin bahwa dia dan Rahma sudah bersekongkol. Alif langsung pergi mau pulang tanpa peduli dan mau membantu gue mencarinya. It must be Alif.

Awas lif, gue kubur Rizki hidup-hidup ntar.

Gue hanya menatap Alif dengan tatapan kesel dan capek. Alif meluk-meluk gue dan gue menjerit. Alif bilang orang-orang ngeliatin. Dan gue juga kalau sekarang nginget-nginget kejadian itu, memalukan juga ya. Mana gue ngejar-ngejar Alif sambil neriakin nama bapaknya yang merupakan guru di sekolah gue.

Akhirnya, kotak pensil itu ditemukan. Pertama, gue menemukan ballpoint gue yang ada karetnya.

“Tuh kan ada pulpen Agus!”
“Ya kan tadi Agus duduk di meja Alif!!”
“Kan kotak pensil Agus hilang sebelum Agus ke meja Alif!!!”
“Oh iya?”

FAIL AWKWKWKKW

Pulang-pulang gue nangis di pangkuan Nurfi, di depan Nabilah dan di samping Mira. Gue degdegan parah waktu nyimpen HP di tas, bener-bener khawatir masih bakalan dijailin meskipun Alif dan Rahma udah pulang. Bener-bener gabisa fokus dan terus-menerus memikirkan “Besok gimana kalau sekolah aku dijailin lagi gimana…” Bahkan gue juga berpikir “Kalau besok pagi Alif sama Rahma nyuruh anak-anak kelas pindah kelas dan ngebiarin gue kebingungan sendiri gimana…” Dan “Kalau Alif pulang duluan ternyata untuk menyembawa kabur Mamah dari rumah gimana…” juga, “Jodoh gue yang lagi sembunyi trus tempat persembunyiannya disembunyikan sama Alif dan Rahma gimana…”

Menarik untuk diceritakan, tapi menyebalkan untuk diingat. Kesel banget sumpah. The best banget kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s